Bisnis Indonesia

Karma kita kenal seperti sebuah hukuman. Padahal karma itu sama dengan perbuatan dari bahasa Sansekerta. Kita mengenal kata “Hukum Karma” seolah-olah suatu ganjaran/hukuman yang mutlak. Karena kalau mengadopsi bahasa Arab, hukum itu hukuman, dalam bahasa Inggris “puhisment”. Karena lebih tepat kata punishment, mereka mengenal kata Law dan punishment. Tapi keduanya mempunyai perbedaan arti.

Sebetulnya karma itu adalah aktivitas kita sehari-hari. Sederhana saja. Apa yang kita lakukan, baik bergerak maupun berpikir adalah karma. Dan setiap aktivitas mempunyai dampak. Baik atau buruk. Kalau kita melakukan sesuatu yang buruk(ber-aktivitas) maka buruk pula hasilnya. Sepertinya itu sudah merupakan hukum alam. Semisal kita memrperlakukan seseorang dengan buruk, maka suatu saat kita akan merima pula perlakuan buruk. Demikian juga sebaliknya.

Baik dan burukpun selalu berjalan bersama. Seperti dua sisi uang logam. Satu paket, tidak bisa terpisah. Jika kita mengalami kesenangan, sesudahnya kita pasti mengalami kesusahan. Berjalan silih berganti. Di dunia kita, tidak ada keabadian/kelanggengan. Tidak mungkin kita akan mendapatkan kesulitan terus menerus maupun kesenangan terus menerus. Justru yang abadi adalah pergantian susah-senang itu sendiri.

Masyarkat Bali menjadikan hukum karma sebagai prinsip hidup. Bukan punishment. Mereka memandang setiap akitivitas kehidupan ada konsekuensinya sendiri.

Dalam Bisnis atau dunia wirausaha, juga mengenal hukum karma. Seperti pemain bola yang akan menendang bola untuk mencetak gol, pemain tersebut akan berkonsentrasi pada proses menendang bola bukan pada kotak jaring yang akan ditembak. Cukup mengetahui sasarannya, kemudian akan mengerahkan sepenuhnya perhatian pada proses menendang bola agar bisa mencapai sasaran. Dengan sendirinya pemain bola akan memberikan perhatian pada prosesnya bukan pada hasilnya. Karena kalau prosesnya sudah benar kemungkinan besar gol/SUKSES akan terjadi. Hampir-hampir otomatis.

Banyak dari kita tergantung pada movitasi. Itu menunjukan kelemahan diri. Motivasi baik dari barang seperti rumah, mobil mewah dan lain-lain ataupun seseorang yang kita cintai atau kita hormati adalah melemahkan kekuatan dari dalam diri kita.

Jadi kesenangan atau kebahagian tidak perlu ditunda, menunggu, sampai berhasil baru kepuasan ataupun kebahagian diraih. Padahal kalau kita menemukan seni dalam proses “doing bisnis” kita bisa bahagia, kita bisa senang. Kuncinya memang di cinta. Cintailah pekerjaan anda. Biasanya kita disarankan melakukan wirausaha pilih yang sesuai hobi. Karena kita tidak akan kehabisan energi dalam proses tersebut, justru menikmati.

Sepertinya pepatah :

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”

“Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”

Kurang pas ya..? Bagaimana menurut anda ?

Have Fun..in flow. Selamat berkarya.
content protection